Manado Sbg Hub Wisata Indonesia Timur (Destinasi Prioritas Yang Terlupakan)

Penyempitan daftar ’10 Bali Baru’ menjadi ‘4 Bali Baru’ pada Ratas yang dipimpin oleh Presiden Jokowi dan Kemenpar (16/11/2017) mencerminkan kecepatan pemerintah bertindak atas evaluasi program sebelumnya. Jika memang 10 destinasi ini tidak realistis, ya memang seharusnya tidak usah sungkan untuk menjadikannya lima, empat atau bahkan tersisa satu saja. Yang penting kita segera bergerak dan fokus untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisman hingga mencapai 19 juta kunjungan di tahun 2019 nanti.

Danau Linow Tomohon.JPG

Hanya sebaiknya fokus Kemenpar pada 4 Bali Baru ini tidak melupakan bahwa masih ada 1 daerah lagi yang secara mandiri dalam 3 tahun terakhir ini telah menjelma menjadi destinasi wisata baru di Indonesia, yaitu Manado dengan kunjungan wisman mencapai 75,000 di tahun 2016 lalu. Jika dibandingkan dengan wisman yang berkunjung ke Lombok (1.5 juta), Labuan Bajo (70,000) dan Banyuwangi (75,000) di tahun 2016, tentunya jumlah ini biasa-biasa saja. Tetapi perlu diketahui bahwa ketiga destinasi diatas adalah merupakan ‘satu kawasan wisata’ dengan Bali sebagai induknya.

Bisa dikatakan mustahil apabila ada seorang wisman yang berkunjung ke Lombok atau Labuan Bajo, tetapi tidak mampir dulu ke Bali.

Beda halnya dengan Manado…. wilayah ini telah menjadi tujuan wisata mandiri dan tidak terikat dengan wilayah lainnya. Secara luar biasa, kerjasama antara Pemprov Sulut, Swasta dan maskapai penerbangan telah menciptakan satu keajaiban bagi dunia pariwisata di Indonesia. Yaitu dengan berhasilnya mereka menciptakan ceruk pasar baru yang selama ini selalu dipandang sebelah mata oleh pemain wisata tradisional lainnya. Prof Rhenald Kasali secara tepat bisa menggambarkan fenomena bergesernya keseimbangan pasar wisata yang tadinya didominasi oleh kelas menengah atas, menjadi kelas menengah bawah. Fenomena ini secara cerdik ditangkap oleh Manado dengan menyediakan paket murah meriah bagi turis China kebanyakan.

DCIM100MEDIADJI_0041.JPG

China dengan jumlah wisatawan Internasional sejumlah 140 juta, dan 75 juta diantaranya ialah generasi Milenial, adalah merupakan negara penyumbang turis terbanyak didunia. Dengan paket perjalanan Shanghai-Manado PP 4 malam 5 hari (full hotel, makan dll) seharga 5 s/d 10 juta rupiah, seorang buruh pabrik di China dengan gaji ‘UMR’ setara 4.3 juta-pun, sudah dapat merencanakan liburan mereka ke Manado.

Kejelian Travel Manado dan maskapai penerbangan untuk menyasar kota-kota pedalaman China yang jauh dari pantai, membuahkan hasil ketika turis pedalaman ini berbondong-bondong berkunjung untuk menikmati paket wisata laut dan kuliner di Manado dan sekitarnya. Sangat tepat jika akhirnya Lion Group membuka jalur-jalur penerbangan baru dari Manado ke daerah wisata sekitarnya, seperti Gorontalo, Morotai, Luwuk serta Raja Ampat untuk mengantisipasi dan membagi ledakan turis yang datang ke Manado. Salah satu rekan saya yang menjadi pimpinan travel Manado menceritakan bahwa lama tinggal turis China adalah 2 malam 3 hari, atau 4 malam 5 hari. Bagi turis yang tinggal 4 malam 5 hari, pilihan untuk memperpanjang kegiatan mereka diluar Manado sangat terbuka lebar. Pasar ini yang secara serius harus segera digarap dan diperhatikan oleh pelaku wisata disekitar Manado.

Pemerintah dalam hal ini dipimpin oleh Kementrian Pariwisata, kami sarankan untuk segera menjadikan Manado sebagai kawasan Prioritas dan Hub Wisata Indonesia Timur. Berbeda dengan ‘4 Bali Baru’ diatas, yang dibutuhkan wilayah ini adalah pembangunan infastruktur yang terintegrasi dan juga sudsidi transportasi oleh pemerintah bagi turis asing yang berkunjung.

Peta Manado Hub Wisata Indonesia Timur

Beberapa usulan yang mungkin dilakukan ialah sebagai berikut :

1. Mengaktifkan kerjasama kawasan wisata Kawasan Sulut, Gorontalo, Morotai, Luwuk dan Raja Ampat, dan mempromosikan daerah-daerah ini sebagai satu Kawasan wisata terintegrasi.

2. Memilih maksimal 2 lokasi wisata prioritas di masing-masing kawasan tersebut, yang layak jual untuk turis asing, dan pantas untuk dihubungkan dengan moda transportasi bersubsidi.

3. Mempeta ulang moda transportasi yang dimiliki oleh pemerintah di kawasan ini, dan mengintegrasikannya agar ‘tourist friendly’, dengan jadwal yang jelas, dan terkoneksi satu sama lain. Contohnya ialah Kapal Perintis Sabuk Nusantara 36 yang ‘hanya’ bersandar di Kwandang dan tidak meneruskan pelayaran ke Manado. Jika rute kapal ini bisa diubah hingga Manado dan beberapa kamar kapal diperbaiki, niscaya cepat atau lambat rute wisata Manado-Lolak-Kwandang s/d Derawan bisa terbuka dengan sendirinya. Bis-bis pemerintah bisa ikut diperbantukan untuk mengisi jalur-jalur wisata yang kosong hingga batas waktu tertentu.

4. Pemerintah harus berani memberikan subsidi transportasi untuk turis asing untuk jangka waktu tertentu. Contohnya dengan menekan ground handling airport, subsidi bahan bakar bagi pesawat setiap kali membawa penumpang asing, subsidi moda transportasi agar bisa berjalan meskipun minim penumpang, dan lain sebagainya. Kami percaya bahwa dana-dana subsidi ini akan kembali dengan sendirinya ke masyarakat dari interaksi para turis di wilayah-wilayah yang mereka singgahi.

Raja Ampat Papua

Pembangunan Hub Manado tidak hanya berbicara mengenai pariwisata. Pembangunan Hub Manado juga berbicara mengenai pembangunan Indonesia seutuhnya. Manado telah menjadi rumah kedua bagi puluhan ribu warga Papua, warga Gorontalo dan warga Bolmong yang ingin bersekolah dan berbelanja. Rumah dimana semua ras, suku, agama dan daerah campur baur secara rukun dan damai. Kondisi dan potensi yang unik ini hanya dimiliki oleh Manado. Pemerintah harus segera bertindak, karena pembangunan Hub Manado secara otomatis akan ikut memajukan dan mempersatukan daerah-daerah lain dikawasan Indonesia Timur.

Wallahu A’lam Bishawab

Smilee…… (by tim Saronde)

DCIM100MEDIADJI_0059.JPG

Leave a Reply